PESUT MAHAKAM

STFJ/NurniSulaiman

STFJ,Kalimantan- Seekor Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) melintasi Sungai Kedang Rantau, anak Sungai Mahakam di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, belum lama ini. Keberadaan Pesut Mahakam terancam punah, diperkirakan hanya tersisa sekitar 80 ekor di tahun 2019.

Aktivitas lalu lintas di perairan sungai mahakam, yakni tongkang batu bara dan jerat rengge nelayan serta keterbatasan makanan menjadi salah satu penyebab berkurangnya habitat mamalia air tersebut.

Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan paus yang hidup di laut, pesut mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi undang-undang ini terutama terdapat pada tiga sungai besar di Asia Tenggara, diantaranya di Sungai Mahakam, Kalimantan.

Di Indonesia, hewan ini bisa ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka. Selain di Sungai Mahakam, pesut ditemukan pula ratusan kilometer dari lautan, yakni di wilayah Kecamatan Kota Bangu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai pula di perairan  Danau Jempang  (15.000 ha),  Danau Semayang  (13.000 ha), dan Danau Melintang (11.000 ha).

Pesut mahakam mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur). Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah serta tidak memiliki pola khas. Sirip punggungnya kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahinya tinggi dan berbentuk bundar, tidak ada moncong seperti lumba-lumba lain. Sirip dadanya lebar membundar.

Pesut mahakam bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, tetapi pesut merupakan ‘pakar’ dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan. Kemungkinan hewan ini menggunakan gelombang ultrasonik untuk mendapatkan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya lumba-lumba laut.STFJ/Nurni Sulaiman