KONFLIK GAJAH SUMATERA DAN MANUSIA

STFJ/Sutanta Aditya

Meningkatnya konflik manusia dan hewan telah berdampak dari tergerusnya populasi satwa endemik, termasuk gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Setidaknya 17 gajah tewas pada tahun 2012 sebagai akumulasi data pemerintah Indonesia yaitu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Ketol, Aceh Tengah, Aceh, Indonesia.

Hasil forensik diketahui kasus kematian gajah liar sumatera akibat keracunan atau diracun. Populasi gajah liar sumatera saat ini diklasifikasikan sebagai satwa sangat terancam punah yang diperkirakan saat ini terdapat 3.000 gajah liar Sumatra tersebar di habitat aslinya, berdasarkan data Uni Internasional untuk Konservasi Lingkungan (IUCN), didefenisikan bahwa telah terjadi penurunan 50 persen dari populasi gajah Sumatera sejak tahun 1985.

Bumi saat ini mengalami degradasi dari eksistensi satwa liar endemik, sehingga para pakar maupun relawan berperan penting dalam melindungi populasi badak, gajah, orangutan, harimau dan beruang dari perdagangan ilegal satwa serta bagian-bagian tubuh hewan purba tersebut.

“Deforestasi hutan adalah sumber pokok permasalahan kepunahan satwa untuk itu ‘Zero Deforestation’ adalah kampanye Greenpeace Indonesia untuk menekan angka kepunahan satwa dengan menyelamatkan hutan hujan tropis Indonesia”, jelas Global Project Leader of Indonesia Forest Campaign untuk Greenpeace Asia Tenggara, Kiki Taufik. STFJ/Sutanta Aditya

http://www.sutantaaditya.net/2018/07/21/sumatran-elephants-wild-animals-gunung-leuser-national-park-world-lungs-rain-forest-climate-changes-deforestation/