DIRJEN KSDAE: KONSERVASI INDONESIA BUTUH KOLABORASI DAN BERKELANJUTAN

STFJ,Medan-Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir. Wiratno, M.Sc mengatakan Konservasi Indonesia saat ini menuntut kolaborasi multipihak karena tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Konservasi sangat membutuhkan satu kolaborasi menyeluruh dan berkelanjutan baik dengan mitra NGO dan Jurnalis.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, dia harus bekerja dari para pihak, siapapun yang konsen pada isu lingkungan secara umum,” ujar Dirjen KSDAE KLHK, Wiratno kepada sejumlah jurnalis lingkungan yang tergabung dalam Sumatra Tropical Forest Journalism (STFJ) dalam online meeting, Kamis, 9 April 2020.

Wiratno mencontohkan, luas wilayah konservasi di Leuser di Aceh dan Sumatera Utara, konservasi Aceh saja mulai dari Singkil, Lawe Bengkung, Lawe Mamas hingga jajaran Hulu Masin dan Leuser. Kawasan ini begitu penting perannya baik sebagai habitat satwa maupun fungsi hidrologisnya.

“Pertama penting karena di sini ada empat mamalia besar yaitu orangutan, gajah Sumatra, harimau Sumatra dan badak. Untuk badak, Indonesia merupakan wilayah paling penting ada di Leuser kondisinya sangat kritis. Sama juga halnya dengan Gajah sumatera yang 50 persennya ada di Aceh” Ujarnya Wiratno yang juga merupakan dewan Pakar STFJ tersebut.

Kedua pentingnya kawasan ini selain sebagai rumah bagi satwa liar adalah fungsi hidrologisnya. Dimana kawasan-kawasan ini menjadi penyuplai kebutuhan air bagi manusia.

Selain peran penting hutan dalam siklus kehidupan, Wiratno juga memaparkan konflik yang terjadi antara satwa liar penghuni hutan dengan manusia.

“Saya kemarin baru dari Benar Meriah dan melihat bagaimana masyarakat membangun paret, lalu dipagar listrik karena daerah jelajah satwa besar tersebut berbenturan dengan wilayah-wilayah pertanian.”ujarnya.

Menurut Wiratno, jika terjadi konflik antara satwa dan manusia, maka diatasi dengan melakukan overlay antara peta jalur jelajah dengan manusia, dan jika berbenturan, maka harus dicarikan solusinya secara komprehensif.

“Baru-baru ini di Riau, ada harimau di-rescue dari jerat. Ia kita berinama Korina, itu pada 28 Maret kebetulan hari ulang tahun saya. Kasihan sekali, untung kaki kanannya tidak sampai kena seling baja, dia sekarang diselamatkan dan dibawa ke pusat rehabilitasi harimau Sumatra di Darmasraya.” Bebernya

Problem lain dari konservasi adalah kebiasaanya masyarakat memasang jerat, jerat ini bisa saja mengenai apa saja satwa yang melintas di dalamnya, bahkan satwa dilindungi seperti kena gajah, kena harimau, kena beruang dan ini dampaknya sangat mengerikan.

“Kompleksitas masalah konservasi itu sangat menuntu peran bersama dan program-program yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam perbincangan hangat tersebut , Wiratno menyampaikan lima poin penting yang perlu dilakoni jurnalis yang tergabung dalam STFJ, satu di antaranya membina citizen journalism sejak usia dini.

“Dengan membina citizen journalism, berarti membangun jejaring komunikasi sampai ke tingkat bawah. Selain itu perlu juga fokus membina citizen journalism ini sejak usia dini dengan datang ke sekolah-sekolah atau kelompok-kelompok pengajian,” ujar pria yang memiliki hobby menulis ini.

Sedianya STFJ berencana menghadirkan pria yang akrab disapa Pak Wir ke Medan, untuk launching dan diskusi terkait lingkungan, namun wabah COVID-19 menggagalkan semua rencana tersebut.

“Pasca Corona saya akan ke Medan, kita duduk bersama mendiskusikan tentang konservasi dan lingkungan,” ujarnya.

Sekilas tentang STFJ, merupakan organisasi nirlaba yang terdiri dari jurnalis pemerhati lingkungan, mahasiswa, serta penggiat lingkungan.

“Niat kami membentuk lembaga ini agar bisa menjadi fasilitator dan pusat data untuk kawan-kawan jurnalis lingkungan. Bersama-sama kita menyepakati agar konservasi di Sumatra Utara dan Aceh bisa berjalan dengan baik,” ujar Rahmad Suryadi Direktur STFJ.

Sejalan dengan itu, Bim Harahap, Komunikasi Fasilitator Wilayah TFCA Sumatera, Regional Utara mengatakan pihaknya berupaya mendorong keterlibatan jurnalis dalam upaya-upaya konservasi.

“Kami melihat salah satu kolaborasi strategis dalam upaya konservasi adalah dengan jurnalis, banyak ikhtiar konservasi yang perlu disuarakan secara luas, agar kita semua lebih aware dengan apa yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Kasubag Data dan Informasi KSDAE, Iskandar yang turut hadir dalam online meeting tersebut menyampaikan bahwa informasi seputar konservasi dan lingkungan dapat diakses di website resmi PPID Kementrian Lingkungan hidup, website Direktorat KSDAE, bisa juga melalui platform media sosial.

STFJ/Nurni Sulaiman